Muhamad Anik Jadi Narasumber Pemasaran Digital Pertanian di Yogyakarta

31/08/2026
Muhamad Anik Jadi Narasumber Pemasaran Digital Pertanian di Yogyakarta

Yogyakarta, 11 Agustus 2026 – Perkembangan platform digital telah membuka peluang baru bagi pelaku usaha di berbagai sektor, termasuk pertanian. Produk hasil pertanian kini tidak hanya dipasarkan melalui pasar tradisional, kios, atau jaringan pembeli yang sudah ada, tetapi juga dapat diperkenalkan kepada calon konsumen melalui WhatsApp, media sosial, hingga marketplace.

Peluang tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam kegiatan Bimbingan Teknis Optimalisasi Pemasaran Produk Hasil Pertanian Melalui Platform Digital dan Marketplace yang diselenggarakan di Kota Yogyakarta.

Dalam kegiatan tersebut, Muhamad Anik hadir sebagai narasumber pemasaran digital pertanian untuk berbagi materi mengenai langkah-langkah praktis memanfaatkan platform digital dalam mendukung pemasaran produk hasil pertanian.

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari kelompok tani dengan pembahasan yang diarahkan pada praktik pemasaran yang dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Materi tidak hanya membahas penggunaan platform digital, tetapi juga dimulai dari pemahaman mengenai target pembeli, kebutuhan pasar, kesiapan produk, hingga cara menjaga hubungan dengan pelanggan setelah transaksi terjadi.

Bagi Muhamad Anik, pemasaran digital tidak seharusnya selalu dipahami sebagai sesuatu yang rumit dan membutuhkan teknologi yang sulit. Banyak pelaku usaha sebenarnya sudah memiliki perangkat utama untuk memulai, yaitu smartphone dan akses ke platform digital yang digunakan setiap hari.

Baca juga: Pelatihan Pemasaran Digital Pertanian Bersama Anik Dunia Academy di Yogyakarta

Memulai Pemasaran dari Memahami Siapa Pembelinya

Dalam sesi Bimbingan Teknis tersebut, salah satu pembahasan utama adalah pentingnya menentukan target pembeli sebelum mulai memasarkan produk.

Menurut Muhamad Anik, kesalahan yang cukup sering terjadi dalam pemasaran adalah langsung membuat produk dan promosi tanpa memahami terlebih dahulu siapa orang yang akan membeli. Padahal, target pembeli memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

Produk sayuran, misalnya, dapat dijual kepada ibu rumah tangga, warung makan, usaha catering, cafe atau restoran, hingga reseller. Namun, cara menawarkan produk kepada masing-masing target tersebut tidak selalu sama.

Rumah tangga mungkin membutuhkan produk dalam ukuran yang praktis untuk kebutuhan sehari-hari. Warung makan membutuhkan pasokan yang lebih rutin. Catering dapat lebih memperhatikan kebersihan dan keseragaman produk. Sementara reseller membutuhkan pertimbangan harga grosir dan ketersediaan stok.

Karena itu, peserta diajak untuk mengubah cara berpikir dari sekadar, “Saya punya produk apa?”, menjadi, “Siapa yang membutuhkan produk saya dan apa yang mereka butuhkan?”

Pendekatan tersebut menjadi dasar penting dalam membangun strategi pemasaran. Setelah target pembeli lebih jelas, pelaku usaha dapat mulai menyesuaikan produk, kemasan, informasi, harga, hingga cara promosi yang digunakan.

Produk Pertanian Perlu Disiapkan untuk Pasar Digital

Setelah memahami target pasar, pembahasan dilanjutkan dengan kesiapan produk sebelum dipasarkan secara digital.

Dalam penjualan offline, calon pembeli dapat melihat dan memegang langsung produk yang akan dibeli. Berbeda dengan pemasaran digital, kesan pertama pembeli sebagian besar dibangun melalui tampilan visual dan informasi yang tersedia.

Karena itu, produk perlu disajikan dengan cara yang lebih jelas dan mudah dipahami.

Beberapa informasi sederhana seperti nama produk, berat, ukuran, harga, kondisi produk, lokasi penjual, dan cara pemesanan dapat membantu calon pembeli dalam mengambil keputusan.

Sebagai contoh, unggahan dengan informasi “Bayam Segar Panen Pagi, 250 gram, siap antar area Kota Yogyakarta” memberikan gambaran yang lebih jelas dibandingkan hanya mengunggah foto produk tanpa keterangan.

Muhamad Anik juga membahas bagaimana produk yang sama dapat memiliki persepsi nilai yang berbeda ketika ditampilkan dengan lebih baik. Foto yang terang, produk yang ditata rapi, dan informasi yang lengkap dapat membantu meningkatkan kepercayaan calon pembeli.

Dalam konteks narasumber pemasaran digital pertanian, pembahasan ini menjadi penting karena pemasaran tidak berhenti pada proses membuat konten. Produk itu sendiri harus dipersiapkan agar informasi yang disampaikan kepada pasar sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Info Cepat! Klik, Undang ADUA sebagai Narasumber & Trainer untuk Kegiatan Instansi

Memahami Traffic dalam Pemasaran Digital

Materi berikutnya membahas konsep traffic atau lalu lintas calon pembeli dengan pendekatan yang sederhana.

Dalam dunia pemasaran, traffic dapat diartikan sebagai orang-orang yang melihat atau menemukan produk yang ditawarkan. Secara offline, traffic bisa berasal dari orang yang melewati kios, datang ke pasar, atau mengetahui produk melalui lingkungan sekitar.

Sementara dalam dunia digital, traffic dapat berasal dari orang yang melihat Status WhatsApp, menemukan produk melalui Facebook Marketplace, melihat konten Instagram, menonton video TikTok, atau mencari produk melalui marketplace.

Peserta diajak memahami bahwa kehadiran di platform digital memiliki tujuan untuk mendatangkan perhatian dari calon pembeli.

Namun, mendatangkan traffic saja belum cukup.

Setelah calon pembeli melihat produk, perlu ada langkah berikutnya yang jelas. Ke mana calon pembeli harus menghubungi penjual? Bagaimana mereka mendapatkan informasi harga? Di mana proses pemesanan dilakukan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian menjadi bagian dari pembahasan mengenai funnel pemasaran produk hasil pertanian.

Membangun Funnel Pemasaran Produk Hasil Pertanian

Dalam kegiatan tersebut, Muhamad Anik memperkenalkan alur pemasaran sederhana yang dapat digunakan oleh kelompok tani.

Alur tersebut dimulai dari menentukan target pembeli. Setelah itu, produk disiapkan sesuai kebutuhan pasar. Tahap berikutnya adalah mendatangkan traffic melalui platform digital, mengarahkan calon pembeli ke WhatsApp Business, melakukan follow up, menyelesaikan transaksi, hingga menjaga hubungan agar pelanggan melakukan repeat order.

Dengan alur tersebut, peserta dapat melihat bahwa pemasaran bukan sekadar kegiatan mengunggah produk.

Ada proses sebelum dan sesudah promosi.

Sebelum promosi, pelaku usaha perlu memahami pasar dan menyiapkan produk. Ketika promosi dilakukan, perlu ada platform yang digunakan untuk menjangkau calon pembeli. Setelah ada orang yang tertarik, komunikasi perlu diarahkan ke tempat yang mudah dikelola.

Dalam contoh yang dibahas, WhatsApp Business dapat digunakan sebagai salah satu pusat komunikasi dengan pelanggan.

Calon pembeli yang datang dari Instagram, TikTok, Facebook, maupun marketplace dapat diarahkan ke WhatsApp. Di sana, penjual dapat memberikan informasi lebih lengkap, mengirim foto produk, daftar harga, serta membantu calon pembeli memilih produk yang sesuai.

WhatsApp Business sebagai Tempat Melanjutkan Percakapan

WhatsApp menjadi salah satu platform yang dibahas karena relatif dekat dengan aktivitas sehari-hari peserta.

Banyak pelaku usaha telah menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi, tetapi belum semuanya menggunakannya secara lebih terstruktur untuk kebutuhan bisnis.

Melalui WhatsApp Business, pelaku usaha dapat menampilkan nama usaha, foto profil, deskripsi singkat, lokasi, katalog produk, dan informasi kontak.

Selain itu, Status WhatsApp juga dapat dimanfaatkan untuk menginformasikan hasil panen terbaru kepada orang-orang yang sudah menyimpan nomor penjual.

Cara ini dapat menjadi langkah awal yang mudah dilakukan tanpa harus langsung menggunakan strategi pemasaran yang kompleks.

Misalnya, ketika ada hasil panen kangkung pada pagi hari, penjual dapat mengambil foto produk, menambahkan informasi harga dan area pengiriman, kemudian mengunggahnya ke Status WhatsApp.

Kontak pelanggan yang pernah membeli sebelumnya juga dapat disimpan sebagai bagian dari upaya membangun hubungan jangka panjang.

Info Cepat! Klik, Undang ADUA sebagai Narasumber & Trainer untuk Kegiatan Instansi

Follow Up Tidak Harus Membuat Pembeli Merasa Ditekan

Setelah calon pembeli mulai bertanya, proses komunikasi menjadi bagian penting dalam pemasaran.

Muhamad Anik membahas bahwa cara menjawab pertanyaan calon pembeli dapat memengaruhi kelanjutan proses transaksi.

Follow up yang terlalu langsung, seperti terus menanyakan apakah pembeli jadi membeli atau tidak, dapat membuat sebagian orang merasa kurang nyaman.

Sebaliknya, penjual dapat membantu calon pembeli dengan memberikan informasi yang mereka butuhkan.

Jika seseorang menanyakan apakah selada masih tersedia, penjual dapat menjawab bahwa produk masih ada, baru dipanen pagi hari, serta memberikan pilihan ukuran dan harga.

Cara tersebut tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga membuka peluang percakapan berikutnya.

Pelayanan yang baik pada akhirnya menjadi bagian dari proses pemasaran itu sendiri. Ketika pembeli merasa mudah mendapatkan informasi dan nyaman berkomunikasi, peluang transaksi dapat menjadi lebih besar.

Transaksi Bukan Akhir dari Pemasaran

Salah satu bagian penting dalam materi yang dibawakan adalah apa yang dilakukan setelah barang berhasil terjual.

Banyak penjual berhenti berkomunikasi setelah produk dikirim dan pembayaran diterima. Padahal, pelanggan yang sudah pernah membeli merupakan aset yang dapat dijaga.

Nomor pelanggan dapat disimpan. Riwayat produk yang pernah dibeli dapat dicatat. Setelah pesanan diterima, penjual juga dapat menanyakan kondisi produk dan memastikan pelanggan mendapatkan pesanan dengan baik.

Ketika panen berikutnya tersedia, pelanggan tersebut dapat kembali diberikan informasi.

Cara sederhana ini membuka peluang repeat order.

Dalam pemasaran, mendapatkan pembeli baru membutuhkan usaha untuk memperkenalkan produk kepada orang yang belum mengenal penjual. Sementara pelanggan lama sudah pernah memiliki pengalaman dengan produk dan layanan yang diberikan.

Karena itu, menjaga hubungan dengan pelanggan dapat menjadi salah satu strategi yang relevan bagi kelompok tani dan pelaku usaha pertanian.

Selain repeat order, peserta juga diperkenalkan dengan peluang menawarkan produk tambahan.

Pelanggan yang membeli bayam dapat ditawarkan kangkung yang tersedia pada hari yang sama. Pelanggan yang membeli cabai dapat ditawarkan bawang merah agar kebutuhan belanjanya dapat dipenuhi dalam satu pengiriman.

Pendekatan tersebut dilakukan dengan menawarkan produk yang relevan dengan kebutuhan pembeli, bukan sekadar menambah penjualan.

Info Cepat! Klik, Undang ADUA sebagai Narasumber & Trainer untuk Kegiatan Instansi

Pemasaran Digital Bisa Dimulai dari Langkah Sederhana

Melalui kegiatan di Yogyakarta tersebut, Muhamad Anik menekankan bahwa pemanfaatan pemasaran digital tidak harus dimulai dengan langkah besar.

Bagi pelaku pertanian, prosesnya dapat dimulai dari satu produk unggulan. Produk tersebut kemudian difoto dengan pencahayaan yang cukup, diberikan informasi yang jelas, lalu dipromosikan melalui platform yang mudah digunakan.

WhatsApp dan Facebook Marketplace dapat menjadi salah satu pilihan awal untuk menjangkau pasar. Instagram dan TikTok dapat digunakan untuk memperlihatkan aktivitas nyata seperti proses panen, pencucian, pengemasan, dan pengiriman.

Konten tidak selalu harus dibuat seperti iklan profesional.

Video sederhana yang memperlihatkan proses nyata di lapangan dapat membantu calon pembeli melihat bahwa produk benar-benar tersedia dan dikelola secara langsung.

Bagi peserta, pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat pemasaran digital terasa lebih dekat dan realistis untuk diterapkan.

Berbagi Pengalaman Praktis Bersama Peserta

Kegiatan Bimbingan Teknis ini menjadi salah satu ruang bagi Muhamad Anik untuk berbagi pengalaman dan perspektif mengenai penerapan strategi pemasaran digital dalam konteks yang lebih spesifik.

Sebagai praktisi yang bergerak di bidang digital marketing dan pengembangan bisnis, Muhamad Anik melalui Anik Dunia Academy (ADUA) aktif dalam berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, mentoring, dan pengembangan kompetensi.

Materi yang dibawakan dalam kegiatan pelatihan disesuaikan dengan profil peserta dan kebutuhan penyelenggara. Pendekatannya diarahkan agar peserta tidak hanya mendapatkan konsep, tetapi juga memahami langkah-langkah yang dapat mulai dipraktikkan.

Dalam kegiatan bersama kelompok tani di Yogyakarta, fokus utamanya adalah membangun alur pemasaran yang sederhana: mengetahui siapa pembelinya, menyiapkan produk, mendatangkan calon pembeli melalui platform digital, mengelola komunikasi, menyelesaikan transaksi, dan menjaga hubungan dengan pelanggan.

Membuka Kolaborasi Pelatihan untuk Perusahaan dan Instansi

Pengalaman menjadi narasumber pemasaran digital pertanian di Yogyakarta menjadi bagian dari aktivitas edukasi dan pelatihan yang terus dikembangkan melalui Anik Dunia Academy.

Kebutuhan setiap perusahaan, lembaga, komunitas, maupun instansi pemerintahan tentu berbeda. Karena itu, topik dan materi pelatihan dapat disesuaikan dengan profil peserta, tujuan kegiatan, serta kebutuhan organisasi.

Mulai dari digital marketing, pemasaran produk, pengembangan bisnis, pemanfaatan teknologi dan AI, pengembangan website, hingga strategi pertumbuhan digital dapat dikemas dalam bentuk seminar, Bimbingan Teknis, workshop, mentoring, maupun in-house training.

Muhamad Anik bersama Anik Dunia Academy (ADUA) membuka peluang kerja sama bagi perusahaan dan instansi pemerintahan yang ingin menghadirkan narasumber atau trainer untuk kegiatan pelatihan dan pengembangan kompetensi.

Untuk informasi kerja sama atau mengundang Muhamad Anik sebagai Narasumber dan Trainer, silakan hubungi Anik Dunia Academy melalui:

Dokumentasi Bimtek Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta

LIHAT SEMUA DOKUMENTASI ANIK DUNIA ACADEMY

Anik Dunia Academy

Ruang belajar digital modern berbasis praktik, aplikatif, dan siap pakai, untuk pengusaha, pekerja profesional atau siapa pun yang ingin meningkatkan keterampilan digital, bisnis, dan kreativitas.

Leave a Comment