Pelatihan Pemasaran Digital Pertanian Bersama Anik Dunia Academy di Yogyakarta

Yogyakarta, 11 Agustus 2026 – Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi pelaku pertanian untuk memperluas pasar tanpa harus selalu bergantung pada cara penjualan konvensional. Produk hasil pertanian yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar kini memiliki peluang untuk ditemukan oleh lebih banyak calon pembeli melalui WhatsApp, media sosial, hingga marketplace.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Anik Dunia Academy (ADUA) berpartisipasi dalam kegiatan Bimbingan Teknis yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta. Kegiatan ini mengangkat materi Optimalisasi Pemasaran Produk Hasil Pertanian Melalui Platform Digital dan Marketplace dengan fokus memberikan pemahaman praktis kepada peserta mengenai cara memasarkan produk pertanian di era digital.
Melalui pelatihan pemasaran digital pertanian ini, peserta diajak untuk melihat pemasaran dari sudut pandang yang lebih sederhana dan dekat dengan aktivitas sehari-hari. Digital marketing tidak selalu harus dimulai dengan website yang rumit, iklan berbiaya besar, atau kemampuan teknologi yang tinggi. Bagi pelaku pertanian, langkah awal bisa dimulai dari alat yang sudah digunakan setiap hari, yaitu smartphone.
Baca juga: Universitas Insan Pembangunan Indonesia Gelar Seminar Digitalisasi Bisnis
Produk Bagus Belum Tentu Langsung Menemukan Pembeli
Salah satu persoalan yang masih sering dihadapi pelaku pertanian adalah adanya jarak antara proses produksi dan proses pemasaran. Petani bisa menghasilkan produk yang segar dan berkualitas, tetapi belum tentu produk tersebut langsung dikenal oleh calon pembeli yang tepat.
Tidak sedikit produk hasil panen akhirnya hanya dijual kepada pembeli yang sudah ada, tengkulak, atau pasar di sekitar lokasi produksi. Padahal, kebutuhan pasar sebenarnya jauh lebih beragam. Ada rumah tangga yang membutuhkan sayuran segar dalam kemasan kecil, warung makan yang membutuhkan pasokan rutin, catering yang membutuhkan produk dengan ukuran seragam, hingga restoran dan reseller yang membutuhkan sistem pemesanan yang lebih praktis.
Di sinilah pemasaran digital mulai memiliki peran penting.
Dalam kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa pemasaran bukan hanya tentang mengunggah foto produk. Sebelum menjual, pelaku usaha perlu mengetahui terlebih dahulu siapa calon pembelinya, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana produk tersebut bisa ditawarkan dengan cara yang lebih mudah dipahami.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu fokus dalam pelatihan pemasaran digital pertanian bersama Anik Dunia Academy di Yogyakarta.
Memulai dari Target Pembeli dan Kebutuhan Pasar
Materi pelatihan membahas pentingnya menentukan target pembeli sebelum menentukan cara promosi. Produk yang sama bisa memiliki cara penawaran yang berbeda tergantung kepada siapa produk tersebut dijual.
Sebagai contoh, selada hidroponik dapat ditawarkan kepada rumah tangga dalam kemasan kecil yang praktis untuk kebutuhan salad dan lalapan. Namun, ketika targetnya adalah cafe atau restoran, informasi mengenai kesegaran, ukuran yang seragam, dan ketersediaan pasokan bisa menjadi pertimbangan yang lebih penting.
Begitu juga dengan produk untuk catering sehat atau reseller. Kebutuhan mereka tentu berbeda dengan pembeli rumah tangga.
Karena itu, peserta diajak untuk tidak hanya berpikir, “Apa yang saya jual?”, tetapi juga mulai bertanya, “Siapa yang membutuhkan produk saya?”
Pemahaman sederhana ini dapat membantu kelompok tani dan pelaku usaha pertanian menentukan cara pengemasan, informasi produk, harga, hingga platform digital yang akan digunakan untuk menjangkau calon pelanggan.
Menyiapkan Produk agar Lebih Siap Dipasarkan Secara Digital
Selain target pasar, kondisi produk juga menjadi perhatian penting dalam pemasaran digital. Pembeli online tidak dapat memegang atau melihat langsung produk sebelum melakukan pemesanan. Karena itu, foto dan informasi menjadi bagian dari pengalaman pertama calon pembeli terhadap sebuah produk.
Produk pertanian yang siap dipasarkan secara digital idealnya memiliki beberapa informasi dasar yang jelas. Mulai dari nama produk, kondisi produk, berat atau ukuran, harga, lokasi penjual, hingga cara melakukan pemesanan.
Contohnya, informasi seperti “Bayam Segar Panen Pagi, 250 gram, siap antar area Kota Yogyakarta” tentu lebih mudah dipahami dibandingkan hanya mengunggah foto sayur tanpa keterangan apa pun.
Hal-hal sederhana seperti pencahayaan foto, penataan produk, dan kelengkapan informasi ternyata dapat memberikan perbedaan terhadap persepsi pembeli.
Produk yang sama bisa memiliki nilai jual yang berbeda ketika disajikan dengan lebih rapi dan profesional.
Info Cepat! Klik, Undang ADUA sebagai Narasumber & Trainer untuk Kegiatan Instansi
WhatsApp Menjadi Langkah Awal yang Mudah
Dalam praktiknya, peserta juga diperkenalkan dengan WhatsApp sebagai salah satu kanal pemasaran yang paling mudah digunakan untuk memulai.
Banyak pelaku usaha sebenarnya sudah menggunakan WhatsApp setiap hari. Namun, belum semuanya memanfaatkan fitur tersebut sebagai alat untuk membangun hubungan dengan pelanggan dan menerima pesanan secara lebih terstruktur.
Melalui WhatsApp, hasil panen dapat dipromosikan melalui Status. Pelaku usaha dapat mengunggah foto produk, menambahkan informasi harga, jumlah atau berat produk, serta wilayah pengiriman.
Kontak pelanggan yang pernah membeli juga dapat disimpan untuk kemudian dihubungi kembali ketika tersedia hasil panen berikutnya.
Untuk usaha yang ingin mulai lebih tertata, WhatsApp Business dapat digunakan untuk menampilkan profil usaha, deskripsi singkat, lokasi, katalog produk, serta informasi kontak.
Dengan demikian, calon pembeli dari berbagai platform dapat diarahkan ke satu tempat komunikasi yang lebih mudah dikelola.
Media Sosial dan Marketplace untuk Mendatangkan Traffic
Materi pelatihan pemasaran digital pertanian juga membahas konsep traffic dengan bahasa yang sederhana.
Traffic dapat dipahami sebagai orang-orang yang melihat produk yang kita tawarkan.
Dalam dunia offline, traffic bisa berasal dari orang yang melewati kios, pengunjung pasar, atau tetangga yang datang langsung. Sementara dalam dunia digital, traffic dapat berasal dari orang yang melihat Status WhatsApp, menemukan produk di Facebook Marketplace, melihat unggahan Instagram, atau menonton video di TikTok.
Setiap platform memiliki karakter yang berbeda.
Facebook Marketplace, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk menjangkau calon pembeli lokal yang sedang mencari produk tertentu. Instagram dapat digunakan untuk memperlihatkan proses di balik produk, mulai dari panen, pencucian, hingga pengemasan. Sementara TikTok dapat menjadi media untuk membagikan video singkat yang memperlihatkan aktivitas nyata di kebun atau proses menyiapkan pesanan.
Peserta didorong untuk tidak merasa harus membuat konten yang terlalu rumit.
Video 10 sampai 15 detik tentang proses memanen selada, menimbang cabai, memotong kangkung, atau menata sayuran di keranjang sudah dapat menjadi konten yang relevan. Aktivitas yang nyata justru dapat membantu membangun kepercayaan calon pembeli terhadap produk dan proses di baliknya.
Jangan Membuat Calon Pembeli Bingung
Salah satu poin penting dalam pelatihan adalah memastikan calon pembeli memiliki tujuan yang jelas setelah melihat promosi.
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah pelaku usaha memiliki terlalu banyak jalur komunikasi. Pembeli melihat produk di Instagram, lalu diarahkan ke marketplace lain, kemudian harus mencari nomor WhatsApp, dan akhirnya tidak melanjutkan proses pemesanan.
Semakin panjang perjalanan pembeli, semakin besar kemungkinan calon pelanggan berhenti di tengah jalan.
Karena itu, peserta diajak menggunakan alur yang lebih sederhana. Platform digital digunakan untuk mendatangkan perhatian, sedangkan WhatsApp Business dapat menjadi tempat utama untuk melanjutkan komunikasi dan pemesanan.
Instagram, TikTok, Facebook, dan marketplace dapat berfungsi sebagai pintu masuk. Setelah itu, calon pembeli diarahkan ke satu tempat komunikasi yang jelas.
Info Cepat! Klik, Undang ADUA sebagai Narasumber & Trainer untuk Kegiatan Instansi
Pelayanan dan Follow Up Menjadi Bagian dari Pemasaran
Mendapatkan calon pembeli bukan berarti proses pemasaran sudah selesai.
Dalam pelatihan, peserta juga membahas cara melakukan follow up dengan lebih nyaman. Calon pembeli yang bertanya belum tentu langsung siap melakukan transaksi. Cara menjawab pertanyaan dapat memengaruhi apakah percakapan akan berlanjut atau berhenti.
Alih-alih langsung bertanya, “Jadi beli atau tidak?”, penjual dapat memberikan informasi yang membantu pembeli mengambil keputusan.
Misalnya, ketika ada calon pelanggan yang menanyakan ketersediaan selada, penjual dapat menjawab bahwa produk masih tersedia, baru dipanen pagi hari, serta menawarkan pilihan ukuran dan harga.
Pendekatan seperti ini terasa lebih membantu dibandingkan menekan calon pembeli untuk segera membeli.
Pelayanan yang baik juga berlanjut setelah barang dikirim. Nomor pelanggan dapat disimpan, produk yang pernah dibeli dapat dicatat, dan pelanggan dapat dihubungi kembali ketika tersedia hasil panen berikutnya.
Dari sinilah peluang repeat order mulai terbentuk.
Dari Satu Transaksi Menjadi Pelanggan Tetap
Salah satu tujuan pemasaran digital bukan hanya mendapatkan pembeli baru setiap hari. Hubungan dengan pelanggan lama juga memiliki nilai yang besar.
Seseorang yang sudah pernah membeli dan merasa puas cenderung lebih mudah diajak untuk melakukan pembelian kembali dibandingkan mencari calon pelanggan baru dari nol.
Ketika petani atau kelompok tani akan melakukan panen berikutnya, informasi tersebut dapat dikirimkan kepada pelanggan yang sebelumnya pernah membeli. Cara ini dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun pembelian rutin.
Selain repeat order, peserta juga diperkenalkan dengan konsep menawarkan produk tambahan atau up sell. Misalnya, pelanggan yang membeli bayam dapat ditawarkan kangkung segar yang tersedia pada hari yang sama. Atau pelanggan yang membeli cabai dapat ditawarkan bawang merah agar pengiriman lebih praktis.
Dengan pendekatan tersebut, satu transaksi dapat memiliki peluang nilai yang lebih besar tanpa harus selalu mencari pelanggan baru.
Mendorong Pemasaran Pertanian yang Lebih Praktis dan Adaptif
Kegiatan di Yogyakarta ini menjadi bagian dari upaya memberikan perspektif baru mengenai pemanfaatan platform digital untuk pemasaran produk hasil pertanian.
Digitalisasi pemasaran tidak harus mengubah semua proses sekaligus. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi awal perubahan.
Mulai dari memilih satu produk unggulan, mengambil foto dengan pencahayaan yang baik, mencantumkan informasi produk secara lengkap, mengunggahnya ke WhatsApp atau Facebook Marketplace, hingga menyimpan kontak pelanggan yang pernah membeli.
Hal-hal tersebut dapat dilakukan dengan perangkat yang relatif mudah dijangkau.
Melalui pendekatan pembelajaran yang praktis, Anik Dunia Academy terus mendorong peserta untuk tidak berhenti pada pemahaman teori. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan sesuai kondisi, kemampuan, dan kebutuhan masing-masing.
Hubungi Anik Dunia Academy!
- Detail Informasi, klik: Narasumber Digital Marketing Instansi Pemerintah
- Chat WhatsApp Otomatis, klik: Hubungi Anik Dunia Academy Sekarang!
- Email: info@kelas.anikworks.com
Pada akhirnya, produk hasil pertanian yang baik perlu dikenal oleh pasar yang tepat. Kepercayaan dapat dibangun melalui tampilan dan informasi yang jelas. Proses pemesanan perlu dibuat mudah. Dan hubungan dengan pelanggan perlu dijaga agar satu transaksi tidak berhenti sebagai transaksi satu kali.
Itulah alur sederhana yang menjadi dasar dalam membangun pemasaran produk hasil pertanian di era digital.
Anik Dunia Academy (ADUA) membuka peluang kolaborasi untuk kegiatan pelatihan, seminar, bimbingan teknis, workshop, dan in-house training bagi perusahaan maupun instansi pemerintahan.









