
Digital Marketing Mahasiswa – Surakarta, 8 September 2026 | Dunia digital sudah menjadi bagian dari keseharian mahasiswa. Media sosial digunakan untuk berkomunikasi, mencari informasi, mengikuti tren, hingga berbelanja. Namun, di balik kebiasaan tersebut, ada peluang yang sering belum dimanfaatkan secara maksimal, yaitu menggunakan kemampuan dan dunia digital untuk mulai membangun bisnis.
Hal inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam workshop kewirausahaan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang berlangsung di Surakarta pada Selasa, 8 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Muhamad Anik dari Anik Dunia Academy (ADUA) membawakan materi bertajuk “Dari Scrolling Jadi Selling: Cara Mahasiswa Memanfaatkan Dunia Digital untuk Membangun dan Memasarkan Bisnis”.
Materi tersebut mengajak mahasiswa melihat digital marketing bukan hanya sebagai aktivitas promosi sebuah bisnis yang sudah berjalan. Bagi mahasiswa, digital marketing juga dapat menjadi keterampilan yang membantu menemukan peluang, membangun penawaran, menjangkau calon customer, hingga mendapatkan customer pertama.
Baca juga: Pelatihan BPJS Ketenagakerjaan Kudus Bersama PT SAMWON Jepara
Digital Marketing Mahasiswa Dimulai dari Skill yang Sudah Dimiliki
Ketika membicarakan bisnis, modal uang sering menjadi hal pertama yang dipikirkan. Padahal, mahasiswa memiliki sejumlah modal lain yang tidak kalah penting.
Ada HP yang setiap hari digunakan. Ada koneksi internet. Ada pengetahuan yang diperoleh dari perkuliahan. Ada pengalaman organisasi, kegiatan kampus, pekerjaan sampingan, hingga berbagai keterampilan yang berkembang dari aktivitas sehari-hari.
Masalahnya, banyak kemampuan tersebut masih berhenti sebagai kemampuan pribadi. Belum banyak yang berpikir bagaimana kemampuan tersebut bisa digunakan untuk membantu orang lain dan kemudian memiliki nilai ekonomi.
Karena itu, langkah awal yang dapat dilakukan mahasiswa bukan selalu mencari produk yang ingin dijual. Langkah awalnya bisa dimulai dengan melihat kembali kemampuan yang sudah dimiliki.
Mahasiswa yang memiliki kemampuan Matematika, misalnya, dapat mengembangkan jasa les atau tutor. Mahasiswa yang mampu menggunakan Excel dan mengolah data dapat menawarkan jasa pengolahan data. Kemampuan desain dapat dikembangkan menjadi jasa desain untuk bisnis. Sementara kemampuan membuat konten, fotografi, video, atau riset juga dapat menjadi bagian dari jasa yang memiliki pasar.
Kuncinya adalah menemukan hubungan antara kemampuan tersebut dengan kebutuhan orang lain.
Dari Skill Menjadi Solusi
Skill saja belum otomatis menjadi bisnis. Skill perlu dihubungkan dengan masalah yang ingin diselesaikan.
Dalam praktiknya, calon customer biasanya tidak mencari seseorang hanya karena orang tersebut memiliki sebuah skill. Mereka mencari solusi atas sesuatu yang sedang mereka butuhkan.
Seorang mahasiswa mungkin memiliki kemampuan Excel. Namun, mengatakan “Saya bisa Excel” belum menjelaskan alasan seseorang harus menggunakan jasanya.
Penawaran akan menjadi lebih jelas ketika kemampuan tersebut diterjemahkan menjadi solusi, misalnya, “Saya membantu UMKM membuat laporan penjualan sederhana menggunakan Excel.”
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya cukup besar. Pada penawaran kedua, calon customer dapat memahami siapa yang dibantu, masalah apa yang ingin diselesaikan, dan bentuk solusi yang ditawarkan.
Pola berpikir seperti inilah yang penting dalam membangun bisnis dari skill. Mahasiswa dapat mulai dengan melihat empat hal sederhana, yaitu skill, masalah, solusi, dan customer.
Skill → Masalah → Solusi → Penawaran
Dari sana, proses pemasaran digital menjadi lebih mudah diarahkan.
Menentukan Customer, Bukan Menjual kepada Semua Orang
Kesalahan lain yang sering terjadi ketika seseorang baru memulai bisnis adalah menentukan target pasar terlalu luas.
“Target saya mahasiswa.”
“Produk saya untuk semua orang.”
Kalimat seperti itu memang terdengar aman, tetapi justru membuat proses pemasaran menjadi lebih sulit. Ketika target terlalu luas, pesan yang dibuat juga cenderung umum dan sulit terasa relevan bagi calon customer.
Mahasiswa tingkat awal tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa yang sedang mencari pekerjaan memiliki kebutuhan berbeda dengan mahasiswa yang sedang membangun bisnis.
Karena itu, semakin jelas siapa yang ingin dibantu, semakin mudah menentukan masalah, membuat penawaran, memilih channel, dan membuat konten.
Digital marketing mahasiswa bukan sekadar tentang belajar membuat konten yang menarik. Ada proses berpikir di belakangnya, mulai dari mengenali target audience, memahami kebutuhan, menentukan pesan, memilih platform, sampai mengarahkan audience menjadi customer.
Butuh Info Cepat? Klik, Undang ADUA sebagai Narasumber & Trainer untuk Kegiatan Kampus
Konten Bukan Sekadar Mengejar Views
Setelah memiliki target dan penawaran yang jelas, mahasiswa dapat mulai memanfaatkan media sosial untuk menjangkau calon customer.
Instagram, TikTok, WhatsApp, LinkedIn, dan berbagai platform digital lainnya dapat digunakan sesuai dengan karakteristik target audience. Tidak harus menggunakan semuanya sekaligus.
Konten juga tidak harus selalu dibuat dengan konsep yang rumit. Ada tiga jenis konten yang dapat menjadi titik awal.
Pertama, konten edukasi yang memberikan informasi atau membantu menyelesaikan masalah audience. Kedua, konten bukti yang menunjukkan hasil, proses, pengalaman, atau portofolio. Ketiga, konten penawaran yang menjelaskan solusi yang tersedia dan bagaimana calon customer dapat menggunakannya.
Tujuan akhirnya bukan hanya mendapatkan views.
Konten yang baik dapat membuka percakapan. Dari konten, seseorang bisa tertarik, kemudian bertanya melalui komentar atau pesan pribadi. Percakapan tersebut dapat berkembang menjadi kebutuhan, penawaran, hingga transaksi.
Dengan begitu, alurnya menjadi lebih jelas:
Konten → Tertarik → Bertanya → Percakapan → Customer
Tidak Perlu Langsung Menggunakan Iklan Berbayar
Dalam tahap awal, mahasiswa juga tidak harus langsung mengeluarkan biaya untuk beriklan.
Organic marketing dapat menjadi ruang untuk belajar dan menguji apakah sebuah ide, konten, dan penawaran mendapatkan respons dari audience.
Mahasiswa dapat membuat beberapa konten, melihat responsnya, kemudian mempelajari konten mana yang mendapatkan perhatian lebih baik. Dari sana, format dan topik yang terbukti menarik dapat dikembangkan kembali.
Salah satu pendekatan sederhana adalah membuat sembilan konten awal yang terdiri dari tiga konten edukasi, tiga konten bukti, dan tiga konten penawaran.
Setelah dipublikasikan, jangan hanya melihat jumlah views. Perhatikan juga engagement, saves, shares, komentar, pesan masuk, dan leads.
Data tersebut dapat membantu menentukan konten mana yang layak dikembangkan lebih lanjut.
Target Pertama Bukan Bisnis Besar, tetapi Customer Pertama
Membangun bisnis saat masih kuliah tidak harus dimulai dengan target omzet yang besar.
Target pertama yang lebih realistis adalah mendapatkan satu customer.
Satu customer memberikan pengalaman yang tidak bisa diperoleh hanya dari teori. Mahasiswa bisa belajar bagaimana berkomunikasi dengan customer, memahami kebutuhan, menyusun penawaran, mengerjakan pekerjaan, menerima feedback, dan memperbaiki layanan.
Setelah mendapatkan customer pertama, proses tersebut dapat diulang.
Belajar → Praktik → Evaluasi → Perbaiki → Ulangi
Dari satu customer menjadi dua. Dari dua menjadi beberapa customer. Dari pengalaman tersebut, mahasiswa mulai memiliki dasar untuk membangun sistem bisnis yang lebih baik.
Di sinilah digital marketing menjadi lebih dari sekadar keterampilan membuat konten. Digital marketing dapat menjadi bagian dari proses mahasiswa membangun pengalaman bisnis secara nyata.
Butuh Info Cepat? Klik, Undang ADUA sebagai Narasumber & Trainer untuk Kegiatan Kampus
Peran Kampus dalam Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa
Pengembangan kewirausahaan mahasiswa juga tidak harus berhenti pada seminar satu kali. Kampus dapat membangun program yang lebih berkelanjutan agar mahasiswa memiliki ruang untuk belajar, praktik, dan menghasilkan sesuatu.
Pendekatan tersebut dapat dikembangkan dalam bentuk workshop, training, mentoring, maupun program pengembangan mahasiswa yang terintegrasi dengan kegiatan akademik dan nonakademik.
Anik Dunia Academy (ADUA) membuka peluang kolaborasi dengan sekolah, kampus, dan universitas untuk menghadirkan program pembelajaran seputar digital, kewirausahaan, dan bisnis.
Program juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan institusi, termasuk pengembangan mahasiswa dalam program RPL yang membutuhkan penguatan kompetensi praktis di bidang kewirausahaan, digital marketing, content creation, maupun business development.
Dengan pendekatan yang lebih praktis, mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga diarahkan untuk menemukan ide, menyusun penawaran, membuat konten, menguji pasar, dan mulai mendapatkan pengalaman dari customer.
Mengundang Muhamad Anik sebagai Narasumber dan Trainer
Muhamad Anik merupakan Digital Marketer dan Entrepreneur serta Founder Anik Dunia Academy. Melalui ADUA, ia mengembangkan berbagai materi pembelajaran yang berhubungan dengan digital marketing, bisnis, content, website, dan pengembangan kemampuan praktis.
Sekolah, kampus, universitas, organisasi mahasiswa, maupun institusi pendidikan yang sedang mencari narasumber atau trainer untuk kegiatan kewirausahaan, digital marketing, bisnis, dan pengembangan kompetensi mahasiswa dapat membuka peluang kolaborasi bersama Muhamad Anik dan Anik Dunia Academy.
- Detail Informasi, klik: Narasumber Digital Marketing Kampus
- Chat WhatsApp Otomatis, klik: Hubungi Anik Dunia Academy Sekarang!
- Email: info@kelas.anikworks.com
Undang Muhamad Anik sebagai Narasumber atau Trainer untuk workshop, seminar, training, mentoring, maupun program pengembangan mahasiswa yang disesuaikan dengan kebutuhan institusi.
Dari Scrolling Menjadi Selling
Mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk mulai mengenal dunia bisnis.
Dunia digital sudah menyediakan ruang yang sangat luas untuk belajar, mencoba, membangun audience, menawarkan jasa atau produk, dan mendapatkan customer pertama.
Yang perlu dimulai bukan selalu sesuatu yang besar.
Mulai dengan satu skill yang dimiliki. Temukan satu masalah yang bisa dibantu. Tentukan siapa yang membutuhkan. Buat satu penawaran. Kemudian gunakan dunia digital untuk memperkenalkannya.
Karena pada akhirnya, kemampuan digital yang paling bernilai bukan hanya kemampuan untuk mendapatkan perhatian.
Tetapi kemampuan untuk mengubah perhatian menjadi percakapan, percakapan menjadi customer, dan pengalaman menjadi bisnis yang terus bertumbuh.











